Keep Move On 'coz if you don't CHANGE you'll DIE

Senin, 01 April 2013

Kembali Menyemai Cinta pada Al Qur'an

Kembali Menyemai Cinta pada Al Qur'an“Sebab para mujahid pejuang yang ada di Gaza begitu cinta dan yakin dengan Al Qur’an. Hingga Al Qur’an itu tak hanya ada di bibir mereka tapi juga ada dalam dada mereka. Itulah alasan mengapa kota Gaza itu begitu diberkahi”

Siang itu saya rasanya ketiban rejeki. Adalah sebuah keberkahan tersendiri bisa bertemu dengan muslimah yang satu ini. Nama beliau, Dr. Sarmini, M.A. atau lebih akrab disapa Umu Saudah. Di tengah kesibukan “ liburan”, demikian beliau menyebut perjalanan kunjungan- kunjungan “Kampanye Cinta Al Qur’an ” yang dilakukannya beliau menyempatkan hadir di Insititusi tempat saya mengabdi. Beliau adalah penggagas Rumah Tahfidz Utrijah di Jakarta. Hari itu beliau membangunkan kesadaran kami untuk kembali cinta pada Al Qur’an. Dan termotivasi untuk mulai berazzam menghafalnya..

Beliau menyampaikan pada kami yang hadir siang itu bahwa semua orang bisa menghafal Al Qur’an. Sebab Allah telah berjanji akan memudahkan bagi siapa saja yang berazzam untuk melakukannya. Dan sudah terbukti sejak zaman Rasulullah hingga kini, para penghafal Al Qur’an berasal dari latar belakang yang bervariasi. Lintas usia, golongan dan ras. Mulai yang berusia dini hingga yang berusia lanjut, ada dan bisa menjadi penghafal Al Qur’an. Penghafal Al Qur’an tidak juga terbatas pada lingkup Negara Arab atau orang yang mengenal bahasa Arab saja, beliau menyebut nama besar Imam Bukhari sebagai contoh cendekiawan muslim yang hafal Al Qur’a n semenjak kecil meski mereka bukan berasal dari daerah Arab. Sebagaimana nama yang dinisbatkan pada beliau, Bukhara itu nama daerah di sekitar semenanjung Balkan (dataran sekitar Rusia sebelum pecah menjadi negara-negara kecil).

Begitupun dalam hal fisik, itu bukan jadi penghalang. Penghafal Al Qur’an yang tubuhnya normal banyak tapi tak sedikit yang tubuhnya tak lengkap. Tidak cukup hanya tunanetra, bahkan beliau mencontohkan ada seorang yang tunarungu dan tunawicara tapi mampu menghafal 3o juz. Bahkan lebih ekstrim lagi, Dr. Sarmini menyebut jika bukan hanya orang muslim yang mampu menghafal Al Qur’an, missionarispun bisa melakukannya. Subhanallah…. itulah janji Allah.

Selanjutnya, beliau mengungkapkan bahwa segala sesuatu itu keberkahannya dimulai dari Al Qur’an. Maka siapapun, lembaga, dan institusi apapaun terutama lembaga pendidikan, jika lebih mengedepankan Al Qur’an sebagai titik kosentrasi dan pondasi dasar bisa dipastikan akan menuai keberkahannya. Al Qur’an itu membawa berkah. Itulah alasan mengapa kota Gaza itu begitu diberkahi. Meski yang disisakan oleh Zionis Yahudi Israel bagi Palestina itu sekedar tanah –tanah gersang dan tandus sementara mereka menikmati tanah-tanah subur di sekitar perbatasan Rafah dan Tepi Barat. Tapi siapa mengira tanah tandus Gaza mampu menumbuhkan pohon–pohon mangga dengan subur yang mana buah dari pohon tersebut begitu lebat hingga berceceran di tanah. Sebab di tanah itulah pertempuran antara yang haq dan yang batil sedang berlangsung. Sebab para mujahid pejuang yang ada di Gaza begitu cinta dan yakin dengan Al Qur’an. Hingga Al Qur’an itu tak hanya ada di bibir mereka tapi juga ada dalam dada mereka.Siang dan malam mereka disibukkan dengan tilawah dan menghafal Al Qur’an saat tak bertugas jaga. Sehingga atmosfer energi positif dari Al Qur’an itu yang kemudian mendatangkan keberkahan pada kota Gaza sebagai mana kita pernah mendengar kristal air berbentuk indah bisa muncul dari air yang sering diberi perkataan dan energi positif. Dan gelombang yang dipantulkan oleh orang pembaca dan penghafal Al Qur’an itu adalah energi positif.

Beliau menambahkan, mencintai dan menghafal Al Qur’an itu sebagai salah satu usaha untuk mengembalikan kejayaan Islam. Karena kejayaan itu tidak akan kembali kecuali unsurnya sama, yakni kembali pada Al Qur’an. Jika kita melakukan sebagai mana dulu Sahabat Rasulullah lakukan, maka kita bisa mendapatkan kejayaan yang sama. Sebab sekali lagi, faktor pengaruhnya sama. Bukti nyatanya sekali lagi ada di kota Gaza. Mengapa di kota yang begitu sempit dengan penduduk yang begitu padat tapi mereka tidak pernah menyerah untuk melakukan perlawanan terhadap Zionis Yahudi Israel..? Mengapa jika sekian puluh ribu jiwa meninggal akibat pertempuran, seketika itu pula Allah ganti dengan jumlah yang setimpal, bahkan berlipat-lipat..? Sebab Al Qur’an ada dalam dada mereka. Sebab mereka semuanya tak boleh dan tak pernah melepaskan diri dari Al Qur’an. Dan di Gaza paling banyak meluluskan penghafal Al Qur’an. Dan paling banyak menggelar wisuda penghafal Qur’an. Maka Allah pun memberkahi kota Gaza. Itulah yang membuat penduduk dan mujahid pejuang di Gaza punya kekuatan yang begitu dahsyat hingga canggih dan lengkapnya senjata yang digunakan oleh Zionis Yahudi Israel itu tidak berpengaruh apapun bagi mereka. Yang hingga detik ini mampu menjaga masjidil Aqsho tetap berdiri
.
Negara Indonesia itu lebih stabil dan lebih aman daripada Gaza-Palestina. Jika mereka bisa dan mampu, Indonesiapun pasti bisa dan mampu, demikian beliau memotivasi. Alhamdulillah kita patut bersyukur jika saat ini banyak orang tua yang berbondong-bondong mengirim anaknya untuk belajar Al Qur’an. Mungkin jika boleh dibilang trennya sedang mengarah ke sana. Tapi, Dr Sarmini menegaskan bahwa tidak boleh jika itu sekedar tren dan hanya ikut-ikutan. Niatan kita mesti diluruskan kembali. Jika memang kita menginginkan pemimpin masa depan yang mampu mengantarkan kejayaan Islam maka kewajiban kita semua untuk memunculkan generasi tangguh yang memang siap untuk menyongsong kebangkitan umat. Kewajiban kita untuk mengenalkan, mendorong dan memotivasi generasi penerus kita untuk mencintai dan menghafal Al Qur’an.

Dan tentu saja langkah besar itu dimulai dari kita. Dimulai dari saya juga… tentu saja. Mulai lebih mencintai Al Qur’an dengan berazzam menghafalnya. Hingga berkah dari Allah akan hadir tanpa diminta. [Kembang Pelangi]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar