Keep Move On 'coz if you don't CHANGE you'll DIE

Sabtu, 15 September 2012



"Seperti elang kami melayang,
Seperti air kami mengalir,
Seperti mentari kami berputar,
Seperti gunung kami merenung,
Di lingkaran kami berpandangan,
Di lingkaran kami mengucapkan,
Aku cinta padamu..."

-Iwan Fals-
Entah apa yang ada dalam benak pasukan muslimin saat itu, ketika sang Jenderal, Thariq bin Ziyad, memerintahkan mereka untuk membakar seluruh kapal yang membawa 7.000 pasukan muslim menginjakkan kakinya di daratan Eropa, Spanyol. Lalu di atas bukit Gibraltar, sambil menghunus pedang sang Jenderal yang baru berusia 25 tahun itu menjawab kebingungan pasukannya: “Kita datang ke sini bukan untuk kembali. Kita hanya memiliki dua pilihan: menaklukkan negeri ini lalu tinggal di sini atau kita semua binasa! Wahai seluruh pasukan, kalau sudah begini ke mana lagi kalian akan lari? Di belakang kalian ada laut dan di depan kalian ada musuh. Demi Allah swt., satu-satunya milik kalian saat ini hanyalah kejujuran dan kesabaran. Hanya itu yang dapat kalian andalkan!”.


Terjawab sudah! Terjawab sudah keheranan pasukan pemberani itu! Jiwa mereka menyala, sadar bahwa mereka sedang dipimpin oleh seorang anak muda berhati singa. Seperti kata pepatah arab: “Sepasukan domba yang dipimpin oleh seekor singa akan mengalahkan pasukan singa yang dipimpin seekor domba”. Maka tak sedikitpun rasa takut menyentuh jiwa mereka, ketika 7.000 pasukan kecil muslim harus menghadapi 100.000 tentara Raja Roderick yang memerintah Spanyol. Sebuah perbandingan pasukan yang tidak berimbang. Hanya saja, 100.000 tentara Spanyol itu tidak sadar jika pasukan kecil yang mereka hadapi ini adalah para pemberani yang dipimpin oleh seorang lelaki berhati singa. Dan Sungai Barbate pun memerah oleh tumpahan darah Raja Roderick dan sebagian besar pasukannya di tangan para pemberani itu…

Sahabat, sesungguhnya sejarah setiap bangsa dimuka bumi ini senantiasa diukir dengan keringat dan darah para pemberani. Mereka hadir dalam kebangkitannya. Mereka hadir dalam kejayaannya. Dan mereka juga hadir dalam kejatuhan dan keruntuhannya. Tidak penting benar pada masa apa mereka hadir. Bagi mereka, keberanian itu adalah keterhormatan yang ditakdirkan hadir dalam persitiwa-peristiwanya sendiri…

Seperti itulah, bangsa Inggris mengenang Ratu Elizabeth I sebagai seorang pemberani. Usianya yang masih muda (25 tahun) tidak menghalangi keberaniannya melawan sekaligus menghancurkan armada laut terkuat di dunia, The Invincible Armada Imperium Spanyol. Bahkan masa kepemimpinannya dianggap sebagai awal lahirnya Imperium Inggris Raya.

Seperti itu pulalah, bangsa Jepang mengenang Saigo Takamori, The Last Samurai, sebagai seorang ksatria pemberani. Ksatria samurai yang mengakhiri masa kekuasaan para Shogun dan mengawali lahirnya Restorasi Meiji. Sebuah proses reformasi yang membawa Jepang menjadi Negara teknologi terkuat di dunia.

Begitu pun bangsa Amerika mengenang George Washington, bangsa China mengenang Jengis Khan, bangsa India mengenang Gandhi, dan bangsa-bangsa lain mengenang para pemberaninya sendiri-sendiri.

Dan bangsa kita, bangsa yang besar ini, juga diukir oleh darah para pemberani. Bangsa ini bangkit dari kubangan nyawa para pemberani. Bangsa ini tegak dari tetesan keringat dan air mata para pemberani. Keteguhan hati Diponegoro, ketajaman mata Hasanuddin, kebeningan jiwa Cokroaminoto, kecerdasan Soedirman, semangat baja Soekarno, dan jiwa menyala para aktivis mahasiswa. Dan masih terlalu banyak manusia-manusia pemberani yang menghiasi lembar-lembar sejarah bangsa kita. Sebagiannya terekam dalam tinta, tetapi jauh lebih banyak lagi yang kisahnya hilang bersama tiupan angin senja. Seperti dedaunan yang jatuh memberi kesuburan pada tanah, memberi kita hidup, dan kita tak pernah tahu berapa jumlahnya serta dari pohon manakah asal mereka…

Sahabat, keberanian itu adalah energi jiwa. Ia dapat dimiliki oleh siapa saja yang memutuskan untuk memilikinya. Hanya saja, keberanian itu adalah energi jiwa yang tak punya arah. Dia bisa meledak ke arah mana saja ia dikehendaki oleh pemiliknya. Itulah sebabnya, keberanian Adolf Hitler digunakan untuk membantai 30 juta manusia. Keberanian Jengis Khan dipakai untuk mengancurkan peradaban-peradaban lain di seluruh dunia. Namun keberanian itu pulalah yang menggerakkan Nelson Mandela untuk mendapatkan hak-hak azasi bangsa dan rasnya, bahkan lebih dari itu menjadi inspirator perjuangan HAM jutaan ummat manusia…

Sahabat, negeri kita ini sedang rindu pada kehadiran kembali para pemberani di atas tanahnya. Bangsa kita ini sedang mencari-cari para pemberani untuk menuntunnya keluar dari keterpurukan menuju kebangkitan peradaban. Negara yang kita cintai ini sedang menanti sekelompok manusia-maniusia pemberani yang akan membawa bendera merah putih untuk memimpin dunia. Para pemberani itu, mungkin saja adalah kita wahai sahabat-sahabatku. Karena itu, persiapkanlah dirimu…
Diposkan oleh Bang Irwan di Selasa, Juni 16, 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar