Keep Move On 'coz if you don't CHANGE you'll DIE

Selasa, 27 Agustus 2013

Mengenal Karakteristik Jama'ah-jama'ah Dakwah

Dakwah akan menjadi tinggi…saat pribadi yang membawanya…sama indah… dengan apa yang di bawanya…
[ Sarwo Widodo Arachnida ]

Radikal…!!! Sampeyan itu terlalu radikal…! Ucapan itu tiba –tiba meluncur tanpa diduga dari lelaki separuh baya yang ada di ujung meja, ayahnya. Sebuah ucapan yang belum pernah didengar sebelumnya. Tidak sekalipun sejak ia mengenal dan memutuskan bergabung dalam barisan kafilah dakwah, pengusung risalah para anbiya'. Kata “radikal” itu membuatnya menginsyafi, sepertinya kali ini ia salah langkah…salah memilih strategi dalam berdakwah. Tiba–tiba mucul sebuah tanya “seperti apakah format dakwah yang ideal itu sejatinya…? ”

Dewasa ini, dakwah Islam mengalami perkembangan. Beragam jamaah dengan berbagai bendera pun bermunculan. Yang mana hampir bisa dipastikan semua jamaah mengaku berjuang dan berdakwah di jalan Allah. Dan masing–masing jamaah mempunyai spesifikasi tertentu dalam dakwah yang mereka usung. Setiap jamaah dakwah mempunyai pendekatan dan sudut pandangnya sendiri. Tanpa perlu menghakimi siapa yang paling unggul dan terbaik. Ada baiknya kita mencoba mengenali sebagian di antaranya. Berikut ini beberapa jamaah beserta karakterisiknya sebagainya pernah disampaikan ustadz Amir Faishol Fath.

Jamaah yang satu ini terlihat begitu cinta dengan masjid. Mereka tak hanya sekedar mencintai masjid, mereka berusaha menghidupkannya. Cara dakwah mereka berkunjung dari masjid ke masjid. Isu utama yang mereka usung ketika menyampaikan dakwahnya adalah mengenai makna laa ilaha illaah. Sering kali terutama selesai shalat berjamaah mereka dengan penuh keyakinan menyampaikan pentingnya memaknai laa ilaha illallah sebagai pondasi untuk meraih kehidupan dunia dan akhirat. Sebagaimana, yang jamak terjadi kini banyak muslim yang mengucapkan laa ilaha illallah tapi dalam kehidupan sehari–hari masih tetap menomor duakan Allah. Melaksanakan shalat tapi tetap bermaksiat. Halal dan haram aturan Allah sering dicampuradukkan. Dosa dan ketaatan masih dijalankan beriringan. Maka, ada kalimat pengantar yang menjadi ciri khas jamaah ini saat memberi taushiah yakni inna najaahanaa wa falaahanaa fiddunya wal akhirah biqodri a’maalinaa bi laa ilaha illallah yang kurang lebih artinya sesungguhnya kesuksesan dan kebahagiaan kita di dunia dan di akhirat sangat tergantung pada kesungguhan kita dalam mengamalkan laa ilaaha illallah. Meski jamaah ini jarang, bahkan menghindari membicarakan isu dan tema politik anggota jamaah ini tergolong kumpulan orang–orang yang santun penuh persaudaraan. Hampir tidak pernah menjelek-jelekkan, mencaci dan memusuhi jamaah dakwah lainnya. Mereka larut dalam kesederhanaan gaya penampilan dan dakwah mereka. Mereka meyakini bahwa dakwah itu untuk memperbaiki bukan untuk menghakimi apalagi mencaci. Mereka mengisyafi mungkin cara mereka bisa dibilang terlalu tradisional dan mengesampingkan teknologi, tapi bagian merekalah menangani sisi–sisi yang belum tersentuh oleh jamaah dakwah lainnya

Jamaah yang satu ini berbeda lagi. Biasanya mereka duduk khusuk di selasar masjid sambil jemari menggengam tasbih panjang. Mulutnya tak berhenti berdzikir. Ibadah ritual yang menjadi kosentrasi mereka. Terkadang hingga membuat mereka mengacuhkan urusan dunia. Tak makan berhari-hari tak menjadi masalah bahkan dianggap sebagai pencapaian puncak ruhani. Lupa kewajiban pada anak dan istri. Tak hanya itu, bermunajat pada Allah dengan gerakan menari berputar–putar adalah salah satu ciri. Sebagian dari mereka menafsirkan Al Qur’an dengan pendekatan isyari (simbolik) yakni ayat Al Qur’an tak lagi dipahami sesuai makna bahasa Arab yang asli melainkan sebagai simbol dari makna ruhani yang mereka pahami. Para ulama tafsir dan ulumul Qur’an banyak yang tak sepakat dengan hal ini. Banyak yang mengkritisi apa yang dilakukan jamaah ini, sebab Islam yang dibawa Rasulullah ini universal mencakup segala hal bukan hanya ritual. Sebagimana pula yang Rasulullah contohkan, tak hanya rajin shalat tapi juga berjihad di medan perang. Tak hanya dzikir tapi urusan ekonomi dan Negara juga dipikir. Tidak timpang sebelah. Islam hadir tak hanya untuk menajamkan ruhiah kemudian menumpulkan sisi lainya. Justru Islam hadir sebagai solusi untuk semua dimensi.

Jamaah selanjutnya, ia begitu aktif mempromosikan berdirinya khilafah. Jamaah ini berpendapat jika umat Islam kehilangan kekuatannya akibat runtuhnya khilafah yang dianggap sebagai wadah politik untuk menegakkan ajaran Islam. Jamaah ini aktif menggelar beragam kajian dengan tujuan agar wawasan intelektual kaum muslim terbuka dalam berbagi hal. Terlebih mengenai pemahaman Islam dan permasalahan yang berkutat dalam hal intelektual. Namun, kita semua menyadari jika masalah umat ini tak hanya itu. Umat ini perlu tarbiyah yang berkesinambungan untuk menuju tegaknya kembali khilafah ala minhaji nubuwwah. Khilafah yang dulu pernah ada bukan datang begitu saja. Khilafah hadir dalam rentang sejarah perjuangan yang panjang dan pembinaan yang tanpa henti. Meski terkadang keterikatan secara emosional lebih terasa kuat dalam anggota jamaah ini, tetapi signifikansi kontribusi jamaah ini dalam menghadapi tantangan berbagai aliran pemikiran yang menyimpang di tengah masyakat layak untuk dibanggakan. Kita mesti mengakui hal tersebut sebagai terobosan yang mungkin belum dimiliki jamaah lain.

Berikutnya, jamaah kali ini berperan kongkrit dalam menyelesaikan masalah pembinaan akidah dengan kembali memahami nash –nash hadits dengan begitu selektif. Melalui proses tahqiq yang mereka lakukan, banyak hadits–hadits Rasulullah yang awalnya tak diketahui kedukukannya kemudian menjadi jelas klasifikasinya antara yang shahih dan yang dhaif. Menurut jamaah ini kembali pada tuntunan Rasulullah adalah keharusan sehingga tak jarang mereka menghadang fenomena apa saja yang menurut kacamata mereka tak ada nashnya dari Rasulullah. Meski tak jarang sebagian dari mereka yang begitu bersemangat menggebu mudah menjatuhkan anggapan sebuah fenomena yang yak ada teksnya dari Rasulullah sebagai sebuah bid’ah. Sebab tidak semua fenomena perkembangan hidup manusia modern tercover secara lengkap dan mendetail pada zaman rasulullah. Tak sedikit perkembangan tersebut yang membutuhkan ijtihad–ijtihad baru sehingga hal ini mehadirkan lahirnya ulama-ulama fiqih. Yang mana ulama–ulama tersebut menghasilkan berbagai dokumentasi terkait kajian fiqih yang kadang dengan alasan bahwa kita sudah memiliki teks hadits Rasulullah langsung yang mungkin hanya perdasarkan pemahaman versi ilmu sempit kita ijtihad-ijtihad dari ulama fiqih tersebut jadi terabaikan. Dan berujung mudah menjatuhkan vonis ahlu bid’ah atau takfir pada yang jamaah kurang sejalan. Bukankah perbedaan ijtihad belum pernah akan jadi alasan yang cukup untuk saling bertentangan dengan sesama muslim.

Jamaah terakhir yang dibahas kali ini, bersifat komperhensif. Jamaah ini memperhatikan betul pentingnya tarbiyah dan pembinaan keislaman yang utuh. Mereka mencoba memahami manhaj dakwah Rasulullah secara utuh tidak sepotong-sepotong.. Bukan mengambil sebagian kemudian menolak sebagian yang lain. Tak hanya masalah aqidah, fiqih, atau akhlaq sesama manusia namun juga permasalahan ekonomi dan pengelolaan negara. Hal–hal yang prinsip mereka perjuangkan. Mereka menekankan pentingnya bahasa Arab dan mendalami ilmu pengetahuan agama. Begitupun dalam hal ibadah hampir selalu terkontrol peningkatan dan perkembangannya tiap pekan. Sehingga dengan pembinaan intensif yang mereka lakukan diharapkan anggota jamaahnya akan memiliki kualifikasi pribadi muslim yang aqidahnyabenar, ibadahnya benar, akhlaqnya kokoh, pengetahuanya luas, fisiknya kuat dan sehat, produktif dalam hal ekonomi, efektif dan efisien dalam manajemen diri dan waktu dan tentu saja, menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Jamaah ini berpendapat jika komitmen para anggota terhadap Islam lebih penting untuk membesarkan jamaah ini dari pada penokohan terhadap sosok tertentu yang ada dalam jamaah.

Demikianlah pemaparan keempat jamaah yang cukup mempunyai ruang dalam dakwah Islam. Ada baiknya jika masing–masing jamaah mempunyai pemahaman jika mereka adalah bagian dari jamaah umat Islam yang besar ini sehingga mereka tak akan pernah memaksakan bahwa umat Islam harus satu kubu dan satu suara dengan jamaah tersebut. Sebab yang terpenting adalah bagaimana bagimana jamaah–jamaah Islam ini bersinergi membangun pilar–pilar kebangkitan Islam dengan cara yang santun dan sesuai dengan syariat tapi juga tetap bisa diterima baik oleh masyarakat. Sebab indahnya Islam yang disampaikan sama indahnya dengan para dai yang membawanya, berasal dari manapun jamaahnya. Semoga… [Kembang Pelangi]

*disarikan dari opening buku Mencari format Gerakan Dakwah Ideal karya Dr. Shodiq Amin

Honeymoon di Toko Buku

karena buku adalah lorong_waktu…
dengannya aku bisa "mendengar" dan belajar langsung pada orang-orang terhebat dari berbagai bangsa dan masa…bahkan yg tak mungkin terjangkau oleh umurku sekalipun.

[Sarwo Widodo Arachnida]

“Woow… cocok ini buat honeymoon... ” katanya sambil takjub melihat sekeliling. “Sepertinya tempat ini jadi tujuan pertama setelah akad nikah suatu saat nanti… hi hi hi” tukasnya lebih lanjut sambil terkekeh. Sedang gadis manis di hadapannya hanya bengong memandang dengan tatapan heran. “Dasar memang akhwat antik… masak iya honeymoon di toko buku… apalagi di Gramedia… “ Mungkin itu yang bakal terucap jika tatapan itu diterjemahkan. Hmmm… toko buku jadi tujuan honeymoon… tak terlalu aneh juga… apalagi bagi sepasang kutu buku.

Begitulah hebatnya buku. Ia bisa jadi begitu mempesona… apalagi bagi yang begitu menyukainya. Tak hanya itu, buku itu terkadang bersifat magis. Ia begitu ajaib… ia tak hanya jadi jembatan penghubung bagi beragam ide dan ilmu antar generasi. Tak jarang buku jadi sarana provokasi yang cukup ampuh. Buku menjadi sangat tangguh untuk memberi pengaruh bahkan boleh jadi membalik sudut pandang berfikir bagi pembacanya. Ia bisa jadi bermata dua, berimbas positif atau negatif.

Sejarah telah mencatat… tak berbilang buku yang berjajar merebut simpati pembaca sebagai bacaan paling favorit dan paling laris sepanjang masa. Sebut saja novel Harry Potter karangan JK. Rowling, siapa manusia di belahan bumi ini yang tak mengenalnya. Novel yang setiap serinya ditunggu kedatangannya. Begitu pula adaptasi filmnya di layar lebar hampir selalu tak kehilangan penggemar. Tak heran jika pengarangnya mendadak menjadi kaya raya ketika karya-karyanya menjadi fenomena. Dan novel ini tak sendiri tak sedikit pula karya fiksi lain yang mengiringi seperti Da Vinci Code karya Dawn Brown, The Lord of the Rings, dan Novel klasik The Alchemist yang terbaca dan terjual paling sedikit 50 juta copy di seluruh dunia.

Jangan salah, tak hanya buku fiksi yang mendapat sambutan yang hangat. Buku non fiksi juga layak mendapat tempat. Buku Merah, demikian orang ramai menyebutnya. The Little Red Book (Quotations from Chairman Mao Tse-tung) adalah salah satu buku non fiksi yang cukup mencengangkan sebagai salah satu buku yang paling banyak dibaca sepanjang masa. Terjual 830 juta eksemplar di seluruh dunia dan diterjemah dalam berbagai bahasa. Buku ini adalah antologi kutipan yang diambil dari tulisan dan pidato Mao Tze Tung (Mao Ze Dong) tokoh komunis Cina. Sebagaimana dikatakan tadi buku adalah jembatan ide, demikian pula buku satu ini jadi penyambung lidah bagi tokoh komunis tersebut untuk menamkan dan memperluas jaringan ideologinya pada generasi selanjutnya. Tak mengherankan jika antara tahun-tahun 1966 dan 1971 adalah merupakan suatu keharusan bagi setiap orang Cina dewasa memiliki dan membaca buku tersebut.

Jika kisah fiksi yang terkadang lebih fasih disebut cerita mimpi dan ideologi semacam komunis menjadikan buku sebagai sumber dan sarana propaganda “manhaj” mereka. Maka adalah sebuah kewajaran atau lebih tepatnya keharusan jika dakwah Islam dan para da’i untuk berkawan baik dengan buku sebagai sumber dan sarana penyampai “manhaj Islam” dari generasi ke generasi. Sebab, hal itu tentu sangat relevan dengan ayat-ayat perdana yang Allah turunkan kepada Rasul terakhirNya.

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptkan. Dia telah menciptakan manusia dari (sesuatu) yang melekat. Bacalah !,dan Tuhanmu Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al Alaq 1-5)

Umat muslim, khususnya yang menyandang gelar sebagai da’i penerus risalah para anbiya’ sebaiknya tidak menjauhi apalagi alergi dengan 2 hal ini yakni membaca dan buku. Dengan membaca, otomatis akan semakin memperkaya keilmuan yang dimiliki dan diharapkan nantinya mampu memberi maslahat bagi diri pribadi dan ummat tentunya. Dengan membaca, mereka dapat menelusuri kembali jejak–jejak sejarah kejayaan Islam dengan harapan mampu memunculkan azzam untuk menegakkannya kembali. Dengan membaca, tentu akan menambah khazanah hujjah saat mencoba mencari solusi atas suatu masalah terutama masalah fiqih atau semacamnya. Dengan banyak membaca, seorang muslim akan mampu berbagi banyak pengetahuan baru pada saudara sesama muslim lainya yang belum tahu. Dengan begitu kemanfaatan seorang individu bagi ummat semakin meningkat dan Sabda Nabi tak hanya jadi slogan basi.

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain
(HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni.)

Dan 2 hal tersebut adalah kebiasaan para generasi muslim terdahulu bahkan mereka tak sekedar membaca, mereka pula penulis dari buku–buku terkenal yang bermanfaat bagi generasi muslim masa kini. Bahkan tak sedikit pula buah karya mereka menjadi rujukan bagi kaum non muslim. Sebut saja beberapa contohnya seperti, Al Qanun Al-Tibb yang di Barat dikenal dengan The Canons karya Ibnu Sina yang menjadi rujukan wajib bagi dunia kedokteran. Kemudian, Bidayat Al-Mujtahid (kitab ilmu fiqih) dan Kulliyaat fi At-Tib (buku kedokteran) karangan Ibnu Rusydi yang tak kalah populer. Atau, tulisan–tulisan Al Khwarizmi sebagai penemu Al jabar dan angka nol yang begitu penting di dunia matematika modern. Mereka contoh nyata bagaimana Islam sejatinya tak pernah terpisahkan dengan ilmu, membaca dan buku.

Begitupun para pembesar baik di negeri ini maupun belahan dunia sana hampir tak ada yang berjarak dengan buku. Sebutlah Soekarno, bung Hatta, Habibie, Mao Tze Tung, Lenin, dan bahkan Hitler sekalipun. Mereka semua akrab dengan buku. Jadi, jika boleh digaris bawahi bahwa membaca buku turut menjadi salah satu variabel yang mendorong mereka menjadi orang–rang besar di zamannya.

Maka, sekali lagi tak boleh ada kata alergi dalam hal membaca buku bagi generasi muslim masa kini. Sebab salah satu pilar kebangkitan Islam adalah ilmu. Yang bisa jadi kebangkitan dan kejayaan Islam itu akan terasa semakin dekat jika kita akrab dengan salah satu sumbernya ilmu yakni buku.

Tak akan menyesal orang- orang yang menghabiskan waktu dengan membaca buku. Jika tidak sekarang, besok lusa boleh jadi akan bermanfaat apa yang dibacanya tersebut.
(Tere Lije)

Minggu, 11 Agustus 2013

Administratif Surat Nikah


Artikel berikut saya dapatkan dari wolipop.com. Sengaja saya salin di sini sebenarnya untuk bookmark untuk diri sendiri, siapa tau nanti-nantinya butuh #eeaa

Artikelnya adalah tentang cara mengurus surat nikah di KUA. Berikut artikelnya.
Di tengah persiapan mengurus catering, busana, sampai dekorasi, jangan sampai lupa mengurus surat nikah.

Surat nikah merupakan tanda bukti resmi kalau pernikahan Anda dan pasangan telah sah dan dicatat oleh negara. Memang banyak calon pengantin yang enggan mengurus sendiri surat nikah karena kesibukan atau malas membayangkan prosesnya yang rumit. Biasanya mereka menyerahkan hal tersebut kepada keluarga atau orang kepercayaan.

Nah, untuk yang ingin mengurus sendiri berikut tata caranya pengurusan surat nikah di KUA untuk pasangan beragama Islam:
  1. Tentukan Tempat Menikah
  2. Sebelum mengurus surat nikah, tetapkan dulu dimana Anda akan menggelar akad nikad. Lokasi akad nikah ini nantinya akan berpengaruh dalam pengurusan surat nikah. Jika akad nikah akan digelar di area domisili calon pengantin wanita (CPW) maka nanti calon pengantin pria perlu mengurus surat numpang nikah. Jika akad nikah digelar bukan di area domisili CPW maupun calon pengantin pria (CPP) maka dua-duanya perlu mengurus surat numpang nikah.
  3. Waktu Mengurus Surat Nikah
  4. Menurut keterangan di situs resmi KUA Pasar Minggu, surat nikah wajib diurus selambat-lambatnya 10 hari sebelum berlangsungnya akad nikah. Jika pernikahan Anda sudah disiapkan dari jauh-jauh hari, tak ada salahnya mulai mengurus dari 1-2 bulan sebelum pernikahan. Hal ini agar Anda bisa mendapat penghulu yang sesuai dengan jam akad nikah yang Anda inginkan. Apalagi jika Anda menikah di waktu yang ramai, ada kemungkinan jadwal para penghulu sudah mulai padat terisi.
  5. Surat-surat yang Perlu Disiapkan
    • Foto Copy KTP, siapkan sekitar 4 lembar untuk masing-masing pengantin
    • Foto Copy Kartu Keluarga, siapkan sekitar 4 lembar untuk masing-masing pengantin
    • Pas Photo Calon Pengantin, berukuran 2×3 masing-masing 4 lembar & 3×4 masing-masing sekitar 4 lembar. Jika menikah beda pulau, siapkan paling tidak 10 lembar
    • Bagi yang berstatus duda/janda, lampirkan surat Talak/Akta Cerai dari Pengadilan Agama/Negeri
    • Surat dispensasi dari Pengadilan Agama khusus untuk calon pengantin yang berusia kurang dari 19 tahun (laki-laki), kurang dari 16 tahun (perempuan), atau laki-laki yang akan berpoligami
    • Bagi anggota TNI/POLRI dan Sipil TNI/POLRI harus ada Izin Kawin dari Pejabat Atasan/Komandan
    • Ijazah terakhir (ada beberapa KUA yang mensyaratkan, tergantung masing-masing KUA)
    • Materai sekitar 6 lembar
  6. Proses Pengurusan Surat Nikah
  7. Masing-masing pengantin harus mengurus surat nikah dengan proses sebagai berikut:
    • Menuju RT dan RW setempat untuk mengurus surat pengantar (dokumen: fotokopi KTP 2 lembar)
    • Setelah mendapat surat pengantar, CPW dan CPP mengurus surat N1, N2, dan N4, dan surat keterangan belum menikah ke kelurahan tempat tinggal masing-masing (dokumen: pasfoto 3×4 = 2 lembar, fotokopi KTP CPW & CPP 2 lembar, fotokopi KK CPP & CPW 2 lembar, surat pengantar RT/RW). Untuk dokumentasi sebaiknya fotokopi surat N1, N2, N4, dan surat keterangan belum menikah.
    • Surat N1, N2 dan N4 kemudian dibawa ke KUA kecamatan masing-masing CPP dan CPW untuk mengurus surat rekomendasi nikah. Jika CPP atau CPW tidak melangsungkan pernikahan di KUA domisili maka perlu mengurus surat numpang nikah.
    • Jika perlu mengurus surat numpang nikah, maka surat rekomendasi dari KUA masing-masing CPP dan CPW setempat dibawa ke KUA kecamatan tempat Anda menikah. Di situ Anda akan melakukan pendaftaran pernikahan, diberi tahu ketersediaan penghulu yang akan menikahkan, serta diberi pembekalan tentang pernikahan. (dokumen: surat rekomendasi nikah dari KUA domisili, pasfoto 2×3 = 4 lembar, dan surat-surat lain dari KUA setempat).
    • Setelah bertemu dengan penghulu yang akan menikahkan Anda, jangan lupa meminta nomor telepon dan alamat rumah penghulu tersebut untuk penjemputan. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi agar pernikahan Anda berjalan lancar.
    • Total pengurusan biaya surat nikah dari keluarahan sampai KUA sekitar kurang lebih Rp. 200 ribu di luar biaya penghulu. Untuk biaya penghulu biasanya disampaikan langsung oleh penghulu masing-masing. Jumlah tersebut sebaiknya dibayar separuhnya sebelum nikah lalu dibayar sisanya usai akad nikahnya. Biaya penghulu ini jumlahnya bervariasi mulai dari Rp 200 ribu sampai Rp 1,5 juta.
    • Sekitar satu minggu atau 3 hari sebelum waktu akad nikah, tak ada salahnya menghubungi penghulu untuk mengingatkan.
  8. Simpan Rapih Dokumentasi
Kurang lebih, demikian proses mengurus surat nikah secara umum. Di beberapa tempat mungkin ada beberapa aturan yang berbeda sedikit. Setelah proses mengurus surat selesai, simpan rapih dokumentasi surat tersebut. Percayakan kepada salah satu anggota keluarga atau teman dekat untuk berhubungan dengan penghulu di hari H. Anda sebagai pengantin tentu tak mungkin sibuk mengurusnya. Jangan lupa ingatkan kepada orang yang ditunjuk agar ia juga bertanggungjawab menyimpan buku nikah Anda usai akad nikah.

COPAS

Minggu, 04 Agustus 2013

IBU

*ibu...kadang kata yg sulit ku eja wujudnya...#
*ibu...kadang pernah ku ragui cinta tulusnya...#
*ibu...kadang ku sesali...betapa singkat waktu bersamanya...#
*ibu...kadang harus bisa ku terima...hanya bisa bermanja dengannya lewat doa...#
*ibu...kadang dalam sepi ku bertanya...akankah lebih indah...jika kita bersama...di sana..# 

Kamis, 25 Juli 2013

Sebab Pahitnya Sabar Pasti Berujung Manis

*engkau telaga…hingga semua derai kepahitan itu sempurna karam dihatimu…tak berbekas hanya wajahmu saja yang masih terbias gores keikhlasan..

*engkau api…tak membiarkan celah kecewa… meski setitik... meski sekilas... tak sempat engakau mengeluh… kau bakar semua dengan cinta...dan… engkau indah bersama Allah dihatimu

[Sarwo Widodo Arachnida]

“Urip ne ndunyo iki piro suwe ne seh, nduk…? Lalu apa yang menghalangi kita untuk sedikit bersabar…” sebuah kalimat ajaib dari seorang wanita tangguh. Kalimat yang beliau sampaikan pada adik kandungnya saat mengadukan masalah-masalah yang dialaminya.

Ia sendiri, tak kurang-kurang “deritanya”. Berputra lima dengan suami yang berpenghasilan seadanya. Rutinitas kerja keras dimulai bahkan sebelum pagi. Menyiapkan keperluan harian anak. Memasak makanan ringan yang biasa dititipkan di kantin sekolah. Selanjutnya mendampingi sarapan bersama suami dan kelima putranya.Dengan sepeda motor sederhana dan ketiga putranya, beliau berangkat ke sekolah tempatnya mengamalkan ilmu yang dimilikinya mengajar tunas bangsa mengeja alif ba ta.

Kesibukannya tak berhenti sampai di situ saja. Saat pulang ke rumah tugas lainnya telah menanti, baju cucian yang menggunung, tempat tinggal yang menunggu dibereskan, dan berbagai macam jenis dagangan yang harus ditawarkan dan diantarkan pada pelanggan. Itu semua beliau lakukan sendiri, tiap hari. Tanpa pernah menuntut ”gaji tambahan” pada suami. Tanpa protes pada Allah, mengapa hidupnya begini. Sewajarnya jika beliau hidup bersimbah dengan keluh, namun ia memilih untuk bersabar.

“Saat Allah menguji, pasti Ia tahu bahwa saya ini mampu…” ucapnya sekali waktu saat ditanya mengapa beliau terlihat begitu tangguh. Dan tanpa waktu lama, Allah pun menunjukkan kuasa Nya. Beliau mulai dapat merasakan buah dari kesabarannya. Putra-putranya jadi anak yang istimewa. Putra yang pertama sangat terasa begitu cerdasnya, sedang putra yang kedua hampir tak bertepi sabar dan pengertian sebagaimana ibunya, putra ketiga juga serupa, begitupun dua putra yang lainnya juga tak berbeda. Benarlah perkataan seseorang yang mengenalnya “Lihatlah lewat putra-putra beliaulah, Allah mengangkat derajatnya…atas segala kesabarannya”. Tak terasa, berurai air mata saya ketika merenungi kisah hidupnya.

Sabar itu istimewa. Demikian salah seorang teman pernah melukiskannya dalam kata. Tapi begitulah, sejatinya. Betapa tidak, Allah selalu mengulang-ulang kata sabar dalam firman Nya. Ada yang menyebutkan kata sabar dapat ditemukan hampir di 90 ayat dalam Al Qur’an. Dan jika Al Qur’an telah menyebutkan perintah untuk bersabar, sudah bisa dipastikan ada hikmah dan kebaikan yang mendalam pada sifat yang satu ini.

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS.Az-Zumar: 10)

“Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl : 96)

Ujian hidup berupa derita dan musibah adalah keniscayaan bagi orang yang beriman.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al Ankabut : 2)

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kamu…” (QS. Muhammad : 31)

Saat derita dan musibah menyapa hidup. Sabar, sebaiknya yang jadi teman utama. Sebab ia yang akan membantu kita untuk lebih bisa menyelewati derita dan musibah dengan cara yang lebih anggun dan lebih santun.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah : 155)

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:” Innaalillaahi wa innaa ilaihi raajiuun “. (QS. Al Baqarah : 156)

“Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Al Baqarah : 157)

Dan sabar tak selalu diperlukan saat bertemu dengan derita dan musibah yang menyakitkan dan menyesakkan. Sabar juga diperlukan saat menghadapi maksiat. Sebab pada kondisi tertentu, bagi seseorang sabar melawan maksiat jauh lebih berat daripada melakukan ketaatan berupa shalat, puasa, infaq atau amalan lainnya. Sungguh mulia derajat orang yang dihadapkan pada kemaksiatan kemudian ia bisa bersabar. Sebagaimana sabarnya Nabi Yusuf saat melawan hawa nafsunya yang mulai goyah oleh godaan Zulaikha, yang apabila tidak dikuatkan oleh keimanan kepada Allah maka pastilah ia terjerumus dalam kemaksiatan.

Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemunkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (QS. Yusuf : 23-24)

Saat berhasil melompati godaan maksiat bisa dipastikan keimanan dalam dirinya akan semakin kuat. InsyaAllah.

Begitulah hakikat sabar, ia disediakan Allah sebagai penolong bagi orang-orang beriman. Dibebaskan bagi kita untuk memilih bersama Allah atau bersama selain Nya…

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk “. (QS. Al-Baqarah : 45)

“Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah : 153)

Dan… meski tak mudah. Tetap bersabarlah…!!!

“…bersabar itu slalu spesial…kau tidak tahu akan lama atau sebentar... tapi saat kau bersabar… itu sudah istimewa… karena... Allah bersama orang yg sabar...".
[Sarwo Widodo Arachnida]

*Untuk musahabah diri sendiri* [Kembang Pelangi]

Minggu, 21 Juli 2013

Masalahnya..."mereka" atau "kita"...??

“Jika ada masalah dalam kapal… ya bertahan ‘tuk membenahi adalah satu-satunya solusi…
jika kita turun dan berenang sendirian.. resiko tenggelam lebih besar”

[Sarwo Widodo Arachnida]

“Saya resign… saya berhenti… kemarin saya meminta ijin pada pimpinan saya untuk “keluar” dari K**M*… organisasi tempat saya bernaung dalam aktivitas dakwah kampus !! ketik si Zahra di Inbox FB ketika itu. “ Lho…kenapa…? ” tanya Lekaki Hujan, salah satu teman terbaik di jalan Aqobah dengan penuh heran.

“Saya sudah ndak cocok… terlalu banyak hal yang berseberangan… terlalu banyak penurunan kualitas dan aktivitas yang terjadi… lama..lama siapa bisa tahan…?” terus saja jemari si Zahra mengetik… meluncurkan sejumlah alasan.

“Hmm…saya paham tapi, tetap saja jika ada masalah dalam kapal… ya bertahan untuk membenahi adalah satu-satunya solusi… jika kita turun dan berenang sendirian… resiko tenggelam lebih besar” demikian jawaban Lelaki Hujan. Dan pada akhirnya jawaban Lelaki Hujan mengubah sudut pandang dan menyadarkan si Zahra jika keputusannya tak bisa dibenarkan dan perlu dikaji ulang.

Begitulah… berorganisasi tak selamanya jalannya mulus tanpa hambatan. Menjadi bagian dari sebuah institusi, apalagi yang turut berpartisipasi dalam pusaran gelombang pergerakan dakwah bukan berarti tanpa resiko. Sebagaimana lumrahnya aktivitas apapun pasti ada resikonya. Terlebih aktivitas yang terbingkai dalam kerangka dakwah, bisa dipastikan kemungkinan resiko, tantangan dan hambatan yang ada akan lebih besar dan bervariasi. Dan diperlukan kesiapan psikologis, kesiapan ruhiah lebih tepatnya untuk menghadapinya. Sebab bukan tidak mungkin jika kita belum siap atau bahkan tidak siap menghadapi realitas jalan juang yang penuh riak gelombang akan memicu timbulnya berbagai “penyakit”, diantaranya kemalasan, kelemahan dan kelelahan mental, rasa putus asa atahu bahkan parahnya memilih insilakh (keluar) dari pusaran dakwah, Naudzubillah.

Kita sering mendengar… terlalu sering bahkan… bahwa memilih dan menempuh hidup di jalan dakwah adalah perjalanan paling mulia. Penulis spesialisasi tema tarbawi, Muhammad lili Nur Aulia mengibaratkan seorang aktivis dakwah ibarat seorang musafir di jalan Allah yang membawa misi dakwah ke manapun langkah kakinya berjalan. Ia laksana pembawa minyak wangi yang menebar aroma sedap dan indahnnya islam di sepanjang jalan yang dilaluinya. Beliau menambahkan, berada dalam arus pusaran dakwah adalah sebuah kesyukuran. Menjadi bagian dari dakwah adalah karunia Nya. Itu sebuah adalah sebuah kebahagiaan dan kebanggaan. Allah telah mengistimewakan kita dengan memilih kita berada dalam dakwah. Ini adalah karunia terbaik sesudah iman. Karunia yang belum tentu bisa didapat karena nasab, harta dunia, dan strata sosial tertentu. Sejatinya itu adalah anugerah terindah jika Allah menuntun langkah kita berpijak menapaki jalan yang ditempuh para Nabi, yakni jalan dakwah.

Sebagaimana FirmanNya,

“Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya…” (QS. Ali Imron : 103)

Ustadz Abu Ridho mengatakan jika untuk membangun kesiapan ruhiyah dalam mengarungi jalan dakwah tak cukup hanya dengan pemahaman yang baik. Selain pemahaman bahwa jalan dakwah tidak mudah penuh rintangan, harus ada aspek lain yang mengiringi yakni niat yang lurus ketika memutuskan untuk memulai langkah perjalanan dakwahnya. Niat bersih yang terbebas dari segala nafsu pribadi, materi dan segala kepentingan duniawi. Niat lurus yang melandasi segala aktivitas demi pahala dan ridho Allah semata. Itu yang akan memunculkan imunitas (kekebalan) yang tinggi sehingga seorang aktivis dakwah tak mudah terserang “penyakit” sebagaimana yang telah disebutkan tadi.

Sebagaimana kutipan di mukaddimah buku Komitmen Dai sejati karangan Muhammad Abduh:

Jika komitmen terhadap dakwah benar- benar tulus … maka tak akan banyak pejuang yang berguguran di tengah jalan. Dakwah akan terus melaju dengan tulus untuk meraih tujuan- tujuannya dan mampu memancangkan prinsip- prinsipnya dengan kokoh.

Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus… niscaya hati sekian banyak orang akan menjadi bersih, pikiran mereka akan bersatu,dan fenomena ingin menang sendiri saat berargumentasi akan jarang terjadi.

Jika komitmennya benar-benar tulus… maka hatinya akan lapang untuk memaafkan setiap kesalahan saudara seperjuangannya sehingga tidak tersisa tempat sekecil apapun untuk permusuhan dan dendam.

Jika komitmennya bena-benar tulus… maka sikap toleran akan semakin semarak, rasa saling mencintai akan semakin merebak, hubungan persaudaraan akan semakin kuat dan barisan pejuang dakwah akan menjadi bangunan yang berdiri kokoh dan saling menopang.

Maka saat aroma indikasi bakteri “penyakit” mulai datang menyerang. Selayaknya seorang pejuang dakwah bermuhasabah, introspeksi diri. Apakah sudah lurus niatnya saat melangkah ?. Apakah telah hadir “ketulusan ” yang benar dalam komitmen dakwahnya selama ini ?. Maka, Apabila masih terbesit keinginan untuk insilakh, keluar dari pusaran dakwah, ada perlunya jika kita patut curiga bisa jadi bukan “mereka” saudara –saudara seperjuangan kita yang salah dan perlu dibenahi. Bisa jadi, sejatinya diri kita pribadi yang perlu diterapi.

Sebagaimana kutipan yang di atas, hanya jika karena merasa benar sendiri dan tidak sesuai dengan lainnya kemudian kita memilih keluar “berjuang” sendirian. Bukan tidak mungkin, jarak “tujuan kemenangan” dakwah akan semakin jauh. Dan bisa-bisa kita terlebih dahulu “tenggelam” sebelum benar-benar sampai. Tetap bertahan dan berkontribusi untuk “membenahi” agaknya lebih layak untuk dipilih sebagai solusi. Maka, bertahan saja… karena sekali melangkah “keluar”, tak ada jaminan kita bisa kembali lagi.

“…terkadang dalam banyak keterbatasan, kita harus bersabar menunggu rencana terbaik datang, sambil terus melakukan apa yang bisa dilakukan…” (Novel… Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah-----Tere Liye)

[Kembang Pelangi]

Kamis, 18 Juli 2013

Ketika Akhwat Terperangkap Sinyal Cinta


 


 “...rasa nyaman terkadang membuat orang berhenti meniti takdir terindah…”
[Sarwo Widodo Arachnida]

Akhwat itu susah Move On… itu kesimpulan instan yang saya dapatkan. Meski sejatinya tidak semuanya begitu. Miris memang, tapi itu kenyataan. Setidaknya itu yang saya temukan. Tak percaya…? Mungkin kisah ini bisa bisa jadi sebagian bukti.

Kisah Pertama

Terjadi saat pembinaan tarbawi yang sudah diakhiri, menghangat kembali akibat tema “Kapan Datangnya Belahan Hati”.

“Sudahlah…saya percaya…jodoh itu pasti datang…saat hati sudah ikhlas dan merelakan sosok dambaan yang tak bisa didapatkan…” cetus si mad’u yang ada di hadapannya tanpa beban sambil mengangkat ransel hendak melangkah pergi

“Astaghfirullah…berarti hingga detik ini anti belum ikhlas…?” Sang Murobbiyah tiba-tiba menyahut dengan nada tegas.

“He…he…he…” dengan lugu si Mad’u menjawab dengan tertawa basi.

Tanpa sadar ia duduk kembali, urung untuk melangkah pergi.

“Ck…ck…ck… istighfar ukhti…segera bersihkan hati…” suara Sang Murobbiyah merendah kembali

“Bisa jadi itu sebabnya… data anti selalu kembali…setiap kali ana berikhtiar untuk anti belakangan ini…” lanjut beliau dengan nada sedih.

“Sebaiknya jangan diteruskan seperti ini…anti menyakiti diri sendiri… anti menyakiti orang yang menyayangi anti… segera ditata kembali hatinya… ikhlaskan semuanya… semoga akan ada takdir indah yang mengiringinya ” tutur Sang Murobbiyah kembali menasehati.

Tanpa sadar air mata si Mad’u mulai meleleh…ia begitu dihinggapi rasa bersalah.

Kisah Kedua

“Ana ndak bisa mbak… apa yang harus ana lakukan…” ujar ukhti Solihah lewat sebuah pesan singkat di HP nya.

“Ana susah mengawali sesuatu… dan ketika sudah nyaman… ana takut mencoba yang baru… ibarat sebuah tempat… saya takut untuk melangkah pergi… jujur mbak “beliau” masih tersimpan rapi di hati” lanjut ukhti Solihah makin sendu.

“Ikhlaskan hati dhek… menikah itu tak cukup hanya dengan jatuh cinta… saat anti mampu berusaha bangun cinta… InsyaAllah akan lebih indah… terlebih lagi lebih berkah… Allah slalu punya pilihan yang terbaik” dengan berusaha sebijak mungkin “Mbak”nya memberi jawaban balasan.

Ini sudah sekian kali… sudah hampir proses ketiga yang ukhti Solihah jalani dan masalahnya masih sama. Ia merasa belum mampu “pindah” ke lain hati. Sedang “yang dinanti” merasa masih belum siap tanpa batas waktu yang pasti. Padahal pihak keluarga sudah tak sabar lagi. Dilema melanda, itu sudah pasti.
***

Begitulah akhwat… mereka sebagaimana wanita pada umumnya. Mereka terlalu “setia” dengan perasaanya. Sebuah artikel di dunia maya menyebutkan, pada dasarnya wanita adalah sosok yang sangat setia, kesetiaan mereka terkadang tidak dibalas setimpal oleh laki-laki, tentunya sangat menyakitkan bagi seorang wanita, tapi itulah wanita walau sering disakiti tapi mereka tetap berusaha mempertahankan hubungan dengan mengutamakan kesetiaan. Saat wanita mengalami “tragedi cinta” mereka kebanyakan membutuhkan “waktu berkabung” yang lebih lama. Seorang Konselor percintaan Dr. Rajan Bhonsle mengemukakan, hal itu bisa jadi benar dengan alasan wanita merupakan makhluk yang emosional.

"Bagi kebanyakan wanita, jatuh cinta adalah proses yang perlahan dan bertahap. Ketertarikan wanita kepada pria terbentuk dalam waktu yang lama seiring dia mulai mencintai, mengenali dan memahami lawan jenisnya. Dia memupuk perasaan cintanya, itulah sebabnya kegagalan percintaan atau perselingkuhan lebih menyakitkan bagi wanita," urai Dr. Raja

Sedangkan pakar yang lain mengemukakan hal yang sedikit berbeda, psikoterapis Dr. Reema Shah yang menyatakan bahwa urusan perasaan tidak bisa digeneralisasikan. Dr. Reema berargumen, perbedaan cara pria dan wanita dalam mengatasi masalah percintaan bukan karena gender, tapi lebih kepada kondisi sosial.

"Wanita bersikap demonstratif karena ada semacam persetujuan sosial yang 'membolehkan' mereka lebih terbuka secara emosional. Karena ekspresinya terlihat, orang jadi berpikir kalau wanita lebih sulit melupakan sakit hati," ujarnya.

Argumentasi kedua pakar tersebut makin mengamini jika realitas yang ada menunjukkan bahwa mayoritas wanita memang lebih memilih untuk berlama-lama dalam “derita” cintanya.

Maka teruntuk para kaum adam apapun sebutannya, mau yang ngakunya ikhwan atau bukan, sebaiknya tidak coba–coba mengetuk pintu hati wanita manapun dengan mengirimkan sinyal-sinyal cinta atau menanamkan benih cinta jika memang tidak dan belum sanggup membingkai cinta yang coba ditawarkannya dengan tanggung jawab. Tanggung jawab yang dimaksud adalah pernikahan. Mencintai berati menikahi. Itu prinsipnya. Tegas dan jelas.

Islam tidak memungkiri naluri dan fitrah insani dalam hal kecondongan terhadap lawan jenis. Allah berfirman,

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali Imron : 14)

Dan jalan terbaik untuk mengelola naluri tersebut sudah ditunjukkan Allah pula dalam kitab-Nya.

Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. An Nuur : 32)

Namun apabila merasa belum sanggup memilih solusi yang Allah tunjukkan, Dia menunjukkan alternatif pilihan yang lain yakni,

"Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sampai Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya." (QS. An Nuur : 33)

Disebutkan pula di ayat yang lain,

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".(QS. An Nuur : 30)

Tak hanya kaum Adam, wanita pun dianjurkan melakukan hal yang sama.

Katakanlah kepada para wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) terlihat……. (QS. An Nuur : 31)

Pilihan-pilihan sudah disediakan. Maka, bila melanggar batasan yang ada Allah telah mengingatkan,

“Janganlah kalian mendekati zina, karena zina itu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al-Isra : 32)

Aturan Islam sudah jelas. Pada akhirnya berpulang pada diri masing–masing pilihan mana yang hendak diambil. Tentu sebagai insan yang tercerahkan oleh cahaya iman, semua tentu paham adalah kurang ahsan jika tindakan yang dilakukan akan menimbulkan kesusahan pada saudara seiman. Nasehat ini terutama bagi kaum Adam, jangan sampai karena sikap “kurang bertanggung jawab”nya menyebabkan saudaranya “menderita” berkepanjangan. Sebaliknya pula bagi kaum wanita, tak patut pula kiranya jika berlama-lama dan merasa nyaman dengan “derita cinta” sebab bisa jadi takdir terindah yang telah Allah siapkan jadi tertunda karenanya. So try to Move On girls…...!!! [Kembang Pelangi]