Keep Move On 'coz if you don't CHANGE you'll DIE

Rabu, 15 Mei 2013

Cinta tetap Tegak meski Raga Berjarak



Tenang, aku hanya sedang memberi jarak, agar cinta itu terus memberontak.

Tenang, aku hanya sedang memberi ruang, agar indah itu mampu kau pandang.

Aku kira, untuk melihat keindahan butuh beberapa hasta.

Sebab aku tahu, untuk hangatkan cinta butuh sedikit rindu


[FLP Aceh---Anugrah Roby Syahputra' Blog]

Menjadi Akhwat Tangguh

apakah mereka yang slalu berbuat baik itu tak pernah "terluka"
ah kawan.. boleh jadi mereka lah yang paling banyak terluka di "jalan ini"
bahkan mungkin hati mereka sudah tak utuh lagi.. tercabik dan terkoyak di sana-sini..
lalu mengapa mereka terus menebar kebaikan..?
karena yang mereka cintai adalah Allah… bukan dirinya sendiri…

[Sarwo Widodo Arachnida]

“3 hari sesudah menikah… kami pun hidup terpisah…” ucapnya dengan suara datar.
“Subhanallah…artinya sejak itu anti di Jakarta dan suami di Jawa Timur...? ” tanya Murobbiyah saya untuk meyakinkan.
“Benar…” jawab akhwat tersebut dengan penuh keyakinan tanpa penyesalan.

Itu sepenggal kisah yang dibagi murabbiyah saya saat duduk bersama di Masjid Islamic Center, pagi itu. Kisah tentang salah seorang akhwat pembimbing anak-anak calon penghafal Al Qur’an di Markaz Utrujah yang dirintis oleh DR. Sarmini Lc. MA. Seorang Akhwat tangguh yang berani mengambil pilihan memenangkan Allah dan dakwah di atas kesenangan pribadinya. Beliau lebih memilih mendampingi anak-anak menghafal setiap ayat demi ayat Al Qur’anul Karim dengan konsekuensi harus terpisah jarak dengan sang suami. Beliau lebih memilih bersabar untuk tidak berjumpa dengan suami yang dicinta demi mengantarkan bocah-bocah calon penghafal Al Qur’an itu menjadi generasi Robbani yang akan menjayakan dan memuliakan Islam dengan Al Qur’an. Sebuah pilihan yang tak mudah memang, tapi beliau telah membuat keputusan.

Dari pribadi–pribadi berjiwa tangguhlah selayaknya kita mengambil teladan. Sebab dalam hidup akan ada begitu banyak tantangan yang mesti kita hadapi. Sebab dalam hidup tak sedikit “persimpangan jalan” yang bakal memaksa kita untuk membuat pilihan dan keputusan. Sebab dalam hidup terlampau sering manusia “dipaksa” menjadi lebih kuat agar tidak mengalah pasrah saat menghadapi masalah.

Dari pribadi–pribadi berjiwa tangguh kita belajar, belajar terus menebar kebaikan. Mereka tak hidup untuk dirinya sendiri tapi juga menghidupkan dan memberi manfaat pada sekitarnya. Mereka percaya dengan penuh keyakinan jika di setiap langkah hidup yang mereka tempuh itu demi Allah dan dakwahNya, maka tak pernah akan ada yang sia- sia. Allah Maha Melihat dan malaikatpun tak akan lalai mencatat.. Mereka sepenuhnya mengimani firmanNya :

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)” (QS. Ar-Rahman: 60)

Jika sebuah pilihan yang tak mudah telah diambil, benturan dan luka adalah sebuah keniscayaan. Bentuknya bisa jadi berupa perasaan tidak nyaman, godaan keikhlasan, cacian dan celaan, rasa tidak puas serta tuntutan berlebihan dari lingkungan hingga lintasan hati untuk menghentikan perjuangan. Mungkin tidak cukup sekali, dua kali, tiga kali, bahkan mungkin akan berkali-kali benturan dan luka yang akan terjadi. Tapi pribadi berjiwa tangguh tak terlalu risau dengan segala luka dan kepahitan itu. Mereka lebih memilih Allah dari pada sekedar rasa nyaman. Mereka memilih untuk menjadi kuat sebab mereka tahu Allah yang akan memampukan dan menguatkan mereka dengan pertolonganNya.

”…dan merupakan hak Kami, untuk Menolong orang-orang yang beriman…” (QS. Ar-Rum 47)

“Yang pasti modal awalnya azzam yang kuat… kemudian jiddiyah… bersungguh-sungguh…” kata murabbiyah saya sambil menepuk lembut lutut mutarabbi yang sedang bersila di sampingnya. “Akhwat tadi bisa… Bu Sarmini juga bisa… antipun pasti bisa…” sambungnya menguatkan. Tiba–tiba… serasa sebuah pilihan dihamparkan di hadapan saya. Pilihan menjadi tangguh atau pengeluh…? Menjadi gagah atau kalah…? Pilihan pertama lebih indah sepertinya… bagaimana menurut kalian..? [Kembang Pelangi]

Minggu, 28 April 2013

Berkilau dan Bercahaya di Tengah Gulita

Jika engkau merasa bahwa segala yang di sekitarmu gelap dan pekat
Tidakkah engkau curiga bahwa engkaulah yang dikirim Allah untuk menjadi cahaya bagi mereka
Berhentilah mengeluhkan kegelapan itu
Sebab sinar mu lah yang mereka nantikan itu
Maka, berkilaulah

[Salim A Fillah, Dalam Dekapam Ukhuwah]

“Anti boleh berhenti… sejenak ” kata saya pagi itu. “Tak hanya anti yang pernah merasa perlu berhenti… saya sendiri mungkin lebih dari sekali… berulang –ulang… tapi ternyata memilih berhenti terkadang juga tak mudah… dan atas rahmat dan kasih sayang Allah… saya masih di sini…” lanjut saya kemudian. “Kadang berhibernasi itu perlu kok… tapi jangan lupa kembali lagi ya…!” sambung teman yang lain menguatkan.

Ya begitulah… adalah sesuatu yang lumrah jika ada kejenuhan pada kerja-kerja dakwah. Apalagi jika kondisi yang ada bukan malah menyemangati tapi sebaliknya. Adalah manusiawi jika muncul lintasan sesaat untuk memilih berhenti saat rekan kerja dakwah yang lain hanya terkesan berlari… tapi berlari di tempat. Saat dalam keadaan ritme kerja dakwah yang seperti itu sangat mungkin yang terlihat di mata kita hanya satu warna saja yakni gelap. Dan tak jarang gelap menggoda kita untuk berhenti melangkah.

Tak hanya kehidupan aktivis dakwah saja yang terkadang disergap gelap. Tak sedikit yang orang lain yang turut pula mengalami hal yang sama. Kehidupan mereka disergap gelap. Tapi mereka memilih untuk berkilau. Mereka justru menjadi sinar, berbagi cahaya kepada sekelilingnya. Ada baiknya kita berkaca dari kisah hidup mereka.

Satu di antara mereka adalah seorang bocah bernama Tasripin. Mungkin beberapa yang lalu nama bocah ini tengah ramai dibicarakan. Semua mata penduduk negeri ini seakan tertuju pada bocah berumur 12 tahun ini. Bahkan orang nomor satu di negeri ini khusus membicarakan bocah ini di akun media sosial miliknya. Tak berhenti sampai di situ, beliaupun memberikan bantuannya. Bagaimana publik tidak tersentak, bocah kecil ini begitu gagah dan tegarnya di usia yang semuda itu. Ia meninggalkan bangku sekolah dan bekerja membanting tulang sebagai buruh tani untuk menghidupi ketiga adiknya. Dalam kondisi hidup yang seperti itu bisa jadi ia memilih untuk pergi atau mungkin memilih mati dari pada hidup dengan menanggung beban yang tidak ringan.Di tengah gelapnya tekanan kemiskinan hidup, Tasripin lebih memilih untuk berkilau. Tasripin lebih memilih untuk menjadi cahaya, berkorban dan bekerja keras demi adik-adiknya. Bukan berhenti. Apalagi mati.

Atau mungkin kita perlu juga diingatkan dengan gadis kecil ini. Sinar namanya. Hidup hanya berdua dengan ibu yang sakit lumpuh di rumah sederhana yang terletak di desa Riso, Kecamatan Tapango, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Gadis kecil ini begitu dewasa mengemban tanggung jawab melebihi usianya. Di usia yang masih 6 tahun, ia merawat ibunya selama sang ayah merantau kerja di Negara tetangga, Malaysia. Sinarlah yang membantu dan menemani ibunya selama ini. Mulai dari memindahkan atau menggeser tubuhnya, masak, makan, minum, mandi hingga buang air. Semua itu ia kerjakan sendiri dengan penuh cinta. Sinar memang masih belia. Beban hidupnya juga tak mudah. Tapi, Sinar lebih memilih berkilau dan berbagi cahaya pada ibunya tercinta dengan merawatnya sepenuh jiwa.

Sekali lagi, dari kisah hidup bocah–bocah kecil itu kita patut berkaca. Bocah kecil namun jiwa mereka tak kerdil. Mereka bisa menerobos gelap, mengalahkan keterbatasan kondisi hidup mereka. Mereka lebih memilih menjadi matahari. Mereka lebih memilih untuk berkilau dan berbagi cahaya daripada sekedar meratapi kegelapan. Dan mereka bisa. Begitupun kita, pasti juga akan bisa menjadi cahaya bagi lingkungan dakwah kita. Maka segelap apapun kondisinya, mari berhenti mengeluhkan kegelapan itu… tetaplah berkilau… tetaplah bercahaya.

Sebagaimana petuah seorang kawan, di jalan Aqobah ini…

…Dan harapan itu seperti sebatang lilin… segelap apapun jalanmu… kau tetap boleh menyalakannya… hingga saat semua terjadi... berjanjilah tuk menjadi orang pertama yang membagi cahayamu...
[Sarwo Widodo Arachnida__ mencintai bayang_bayang]

Wallahu a’lam bish shawab. [Kembang Pelangi]

Sebelum Menikah...

“Beruntunglah jika saat ini anti belum menikah…” kata partner kerja saya tiba-tiba.
“Lha kok begitu…??” jawab saya penuh tanya.
”Iya tentu saja... sebab terlalu banyak wow dan haaah… yang bakal anti temui sesudah menikah… itu sebabnya anti lebih beruntung punya waktu lebih lama untuk belajar dan mempersiapkan diri “ demikian partner kerja saya itu menjelaskan, ”beda dengan saya dulu saat memutuskan menikah… tak banyak persiapan mental dan ruhiyah… terlebih lagi persiapan niat… akhirnya saat di awal perjalanan pernikahan saya sering mengalami shock terapy
”Begitulah… jika tidak benar- benar menata niat sejak awal… bukan tidak mungkin bahtera rumah tangga yang telah dibina akan karam dihempas derasnya gelombang masalah,” begitu serius ia menasehati saya.

Banyak hal yang mungkin muncul dan menjadi riak-riak gelombang atau bahkan menjadi tsunami yang bakal menguji jalannya bahtera rumah tangga. Diantaranya orientasi sebelum menikah, jika disorientasi sejak awal, bisa-bisa berbahaya. Misalnya jika bagi wanita orientasi awal menikah untuk melepas beban mencari nafkah. Menikah biar ada yang ngasih biaya, tidak usah susah-susah bekerja. Sebaliknya bagi pria, saat menikah tak perlu lagi mencuci, menyetrika, atau berharap jika mau makan apapun sudah tersedia diatas meja. Lha… jika yang terjadi sebaliknya dan tidak sesuai harapan. Gaji suami yang pas-pasan, cita rasa masakan istri yang tidak karuan, cucian dan setrikaan yang menumpuk bisa jadi ladang subur penyebab pertengkaran. Belum lagi, kekurangan-kekurangan yang perlu disyukuri dan kelebihan-kelebihan yang patut diwaspadai dari pasangan yang dinikahi. Lebih pendiam, kurang cerewet, mendengkur jika tidur, malas mandi, malas dandan, pelupa akut, kebiasaan teledor atau hobi belanja yang kurang sesuai dengan anggaran bisa jadi mengundang persoalan. Ditambah kemudian, kultur dan kebiasaan dari keluarga besar pasangan kita. Mertua yang terlalu baik hingga setiap ada persoalan suami-istri selalu mengambil peran untuk membantu menyelesaikan. Mereka seringkali terlalu khawatir dengan sang anak hingga setiap keperluan masih selalu saja diperhatikan. Hingga tak jarang eksistensi sang menantu jadi terabaikan. Demikian banyak hal, mulai yang sepele hingga yang serius yang bisa menjadi pemicu masalah. Yang bila kurang bijak dalam menyikapi dan menuntaskannya akan berbahaya.

Maka dari itu, sejak awal harus menata persepsi. Menikah tak hanya yang indah-indahnya saja yang merupakan nikmat. Berlelah-lelah mencari nafkah itu juga nikmat. Berusaha memberi senyum termanis di sela lelah mengurus rumah seharian adalah nikmat. Bersungguh-sungguh menerima dan memahami pasangan dengan sepenuh hati itu nikmat. Merebut hati mertua dengan simpati adalah nikmat. Menerima nasehat bijak yang mungkin menyakitkan dari mertua adalah nikmat. Sebagaimana dikatakan Salim A. Fillah, Sebab menikah adalah nikmat dan keindahan kecuali bagi yang menganggapnya sebagai beban. Sebab rumah tangga adalah kemuliaan, kecuali bagi yang memandangnya sebagai rutinitas tanpa makna. Sebab menikah adalah salah satu wasilah untuk mendapat syurga, kecuali bagi yang mejadikannya sebagai fase hidup yang dilewati begitu saja.

Adalah Niat. Itulah persiapan pra nikah yang terpenting yang bisa saya dapatkan dari perbincangan saya dengan rekan kerja saya tersebut. Sebagaimana yang pernah disinggung oleh ustadz Fauzil Adhim di sebuah forum kajian, jika ada seandainya ada 8 kali pertemuan kuliah pra nikah maka hendaknya ada 6 kali pertemuan yang hanya akan membahas 1 hal saja yaitu niat. Innamal a’maalu bin niyaati wa innamaa likullimrii-in maa nawaa. Sebab berbagai macam kitab hadist menempatkan hadist tersebut hampir selalu di awal pembahasan dan menegaskan bahwa apa yang kita peroleh berdasarkan atas apa yang kita niatkan. Dan sebagaimana pengalaman berharga dari rekan kerja saya tersebut. Niat awal ketika mulai memutuskan untuk menikah itulah yang akan menjadi pondasi pijakan kita dalam bersikap dan saat mengambil keputusan penting saat datang persoalan yang genting. Niat pula yang akan menentukan apakah ada barakah di sepanjang perjalanan pernikahan yang dilalui. [Kembang Pelangi]

Sabtu, 27 April 2013

Maafkan Aku Jika Belum Bisa Bilang Cinta

“Mencintai adalah kesiapan untuk memberi”
[Serial Cinta - Ust. Anis Matta]

“Afwan... seandainya ana bisa mencintai anti sepenuh hati,“ gadis cantik yang ada di depanku ketika itu makin deras mengucurkan air mata.
“Jadi… selama ini…??” ucapnya terbata. Tanpa sadar aku melukainya, membuat bahunya tambah berguncang hebat.
“Ana tak bisa bilang cinta… itu resikonya terlampau berat… sedang ana belum melakukan apapun untuk anti… ana belum pernah berkorban sekuat tenaga untuk membantu meringankan setiap beban anti… bahkan dalam setiap sujud belum sekalipun menyebut nama anti dan mengucapkan doa tulus khusus untuk anti… afwan ana harus jujur…” demikian panjang dan lebar aku menjelaskan. Meski, pada akhir pertemuan ada penyesalan yang begitu menyesakkan. Semoga tak pernah terulang di masa depan.

Mencintai adalah sebuah keputusan besar. Demikian kata ust. Anis Matta, di buku Serial Cinta yang belum pernah bosan berulang-ulang kubaca. Beliau mengatakan cinta adalah kata lain dari memberi… sebab memberi adalah pekerjaan… sebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi itu berat… sebab pekerjaan itu harus ditunaikan dalam waktu yang lama… dan pekerjaan berat yang harus ditunaikan dalam waktu yang lama itu hanya mungkin dilakukan oleh orang- orang yang berkepribadian kuat dan tangguh.

Maka beliau mengingatkan, berhati-hatilah saat mengatakan “Aku mencintaimu “. Kepada siapapun. Beliau mengatakan “Aku mencintaimu” adalah ungkapan lain dari “Aku ingin memberimu sesuatu”. Itulah yang sedikit banyak menggerakkanku untuk menata ulang kebiasaan lama yang pernah dengan mudah sering mengatakan “Uhibbukum fillah… aku mencintai antum saudari-saudari ku…”

Aku menginsyafi diri ternyata lebih sering ungkapanku hanya sekedar kata. Sebab jika meraba hati rupanya belum banyak yang kulakukan untuk membuktikan cinta pada saudara-saudaraku seiman. Pada saudara-saudaraku sepergerakan. Pada mad’u yang pernah kupegang. Pada siapapun. Karena ungkapan cintaku  butuh pembuktian. Sebab jika tak ada pembuktian, integritas diri bakal menghilang. Tak salah jika akan lenyap rasa kepercayaan. Dan tak ada cinta tanpa kepercayaan.

Mencintai adalah kesiapan untuk memberi. Memberi pertolongan maksimal saat saudara-saudaraku membutuhkan. Dengan ide, tenaga dan isi kantong jika perlu. Memberi pundak untuk bersandar jika mereka mulai merasa lelah dengan segala beban. Memberi pelukan hangat saat mereka butuh untuk dikuatkan. Memberi senyuman semangat meski kadang batin juga sedang terguncang hebat. Memberi kualitas pertemuan terbaik di sela kepadatan jadwal masing-masing. Tak lupa pula, memberi doa terindah dalam sepi di setiap sujud panjang di hadapan Rabb kita. Demikian sederet pembuktian yang mungkin bisa dilakukan saat aku mengatakan pada mereka “Uhibbukum fillah”. Tak pantas kiranya jika aku hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun.

Itu yang pada akhirnya membuatku lebih berhati-hati untuk tidak mengumbar deklarasi cinta belakangan ini. Aku menggantinya dengan “I’ll try to love you…hardly”. Dengan harapan, aku berazzam untuk tidak berhenti berusaha mencintai saudara-saudara seiman dengan sepenuh hati. Dan yang terpenting, mencintai mereka dengan sepenuh bukti.

Hingga besar harapan termasuk golongan yang disebut dalam sabda Sang Nabi ini.
“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah ada yang bukan Nabi, tetapi para Nabi dan Syuhada merasa cemburu terhadap mereka. Ditanyakan : “Siapakah mereka? Semoga kami dapat mencintai mereka. Nabinya menjawab : “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena cahaya Allah tanpa ada hubungan keluarga dan nasab di antara mereka. Wajah-wajah mereka tidak takut di saat manusia takut dan mereka tidak bersedih di saat manusia bersedih.”.

Wallahu a’lam bish shawab. [Kembang Pelangi]

Senin, 22 April 2013

Jangan Jadi Sekedar "Tukang Dongeng"

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.”
(QS. Ash-Shaff 2-3)

“Jadilah orang yang punya dongeng, tapi jangan jadi orang yang hanya tukang dongeng”. Kalimat ini saya copas dari blog tetangga sebelah, saat browsing mencari inspirasi dan bahan untuk tulisan saya. Kalimat ini begitu menggelitik bagi saya dan tak ada salahnya jika saya bagi juga untuk lainnya. Sebab saya merasa tema ini layak untuk saya ulas sebab sedikit banyak akan jadi nasehat berharga bagi diri saya sendiri.

Tak sedikit orang yang diberi Allah kelebihan dalam hal kecerdasan berbahasa baik itu secara verbal maupun non-verbal (tulisan). Itu akan menjadi sebuah anugrah luar biasa jika seseorang menyadarinya dan mengasahnya hingga menjadi kompetensi positif yang bisa diandalkan, terlebih bagi orang yang hidup dalam dunia harakah dakwah. Berdakwah dengan lisan ataupun dengan pena.

Dan takdir Allah menjadikan saya salah satu manusia beruntung di jagad raya ini, sebab beberapa tes psikologi online yang coba saya ikuti hampir selalu memasukkan skill “Communication” sebagai salah satu Strength yang harus saya asah dan kembangkan.

Ketika berkaca dalam kehidupan sehari-hari, indikasi yang sama pun begitu terlihat. Saya begitu suka bercerita,berdiskusi, mengobrol panjang dan lama. Dengan siapa saja terlebih lagi dengan teman- teman curhat saya yang setia. Rentang waktu hingga berjam-jam sudah pernah terlampaui. Medianya pun tak terbatasi harus bertemu fisik, lewat perantara sinyal maupun media sosial. Temanya bisa apa saja. Tak salah jika pernah ada yang ngguyoni, hobi kok diskusi… aneh. Saya hanya senyum saja waktu dibilang begitu. Begitupun saat berjumpa dan duduk bersama dengan teman-teman di harakah dakwah. Tak jarang saya berbagi “dongeng” apa pun dengan harapan bisa saling menyemangati dan menguatkan satu sama lain. Tentang keikhlasan, ukhuwah, jiddiyah atau bahkan yang paling ekstrem, tentang bertahan dalam harakah dakwah. Yang saya sadar itu semua tak mudah.

Rupanya tak hanya secara verbal, tak disangka dalam bentuk tulisan juga ternyata “dongeng” saya tidak terlalu jelek untuk dibaca. Setidaknya itu pendapat orang yang ada di sekitar saya. Meski lumrah juga jika ada yang mengatakan sebaliknya. Tapi berhubung saya orang yang ndableg, demikian murabbiyah saya jika menjuluki, jadi maju terus saja. Tetap menulis apapun yang terjadi. Dan biarlah Allah saja yang berhak menghakimi.

Tapi saat saya menemukan kalimat di atas tadi saya jadi khawatir sendiri. Dan memunculkan tanya dalam hati. Apakah apakah dongeng-dongeng yang sudah saya bagi sudah benar-benar saya lakukan sepenuh hati sebelum saya sampaikan pada orang lain. Apakah setiap kata-kata nasehat yang saya tulis selama ini sudah lebih saya alamatkan pada diri sendiri sebelum orang lain. Aah... betapa saya harus lebih sering berkaca dan meraba hati. Jika saya pernah berdongeng tentang hakikat keikhlasan, maka saya seharusnya jadi orang pertama yang mengamalkannya. Jika suatu waktu saya bercerita tentang orang orang yang tangguh dan matang secara tarbiyah, maka saya pun wajib bersungguh-sungguh untuk menjadi bagian dari mereka. Jangan sampai saya terlampau sibuk menjadi pendongeng tapi lupa untuk menciptakan dongeng hidup saya sendiri. Jangan sampai sebab terlampau sibuk berkata-kata saya jadi lupa untuk bekerja dan beramal nyata. Alangkah hina jika saat berjumpa dengan Nya… ayat ini diacungkan di hadapan saya.

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff 2-3)

Meski begitu, saya tetap harus jadi pendongeng yang juga tidak lupa menciptakan dongeng saya sendiri. Saya tetap harus beramal dan bekerja nyata tak hanya berkata-kata. Tak mudah memang tapi layakkah meminta syurga jika hanya dengan berdiam diri saja. Tidak begitu kiranya. Wallahu a'lam bish-shawab. [Kembang Pelangi]

Jumat, 19 April 2013

Kejora di Langit Hati




Tahukah engkau
Engkau laksana KEJORA
Bintang paling terang di langit hati
Namun apa daya.....
Ternyata engkau terlalu tinggi
Tangan ini tak sanggup menggenggammu
                Butuh lebih banyak IMAN
                Butuh lebih banyak keTAATan
                Lebih banyak PENGORBANAN
Bukan.....bukan untuk engkau....!!!
Iman....ketaatan.....dan pengorbanan itu... Namun untuk DIA
Hingga di MataNYA
Tangan ini layak  merasakan KILAU mu....


[kini.....Allah memang tak memberi KEJORA tapi menganugrahkan padaku MATAHARI dengan sinar yang lebih HANGAT, lebih DEKAT dan yang pasti lebih SUCI.......*semoga....]